Posted by: omcivics | May 7, 2008

Hari Pendidikan Nasional 2008

Hari pendidikan nasional yang diselenggarakan setiap tanggal 2 Mei bukan hanya peringatan ritual untuk mengenang Ki Hanjar Dewantara sebagai Bapak pendidikan Indonesia, akan tetapi 2 Mei merupakan momentum yang tepat untuk mengingat dan merefleksikan pendidikan di Indonesia selama ini.

Peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2008 saat ini ditengah-tengah ujian nasional yang sebagian masyarakat Indonesia sebagai momok yang sangat menakutkan. Ujian nasional SMP dan SMA pada saat ini dipatok tingkat kelulusan mencapai nilai 5,25. Hal ini belum sebanding dengan kualitas pendidikan negara-negara tetangga kita.

Polemik setuju tidaknya ujian nasional diadakan atau tidak, bukanlah jalan keluar dari keterpurukan bangsa ini akan pendidikan. Mungkin orang sudah lupa bahwa output pendidikan bukan hanya nilai normatif saja akan tetapi lebih jauh dari itu memanusiakan manusia. Nilai yang tinggi bagi seorang anak belum tentu dapat menjadikan kesuksesan di kemudian hari. Banyak faktor lain yang menentukan keberhasilan seseorang.

Memang walau bagamanapun pendidikan harus diukur oleh standarisasi yang dapat teruji seperti ujian nasional sebagai salah satu alat ukur keberhasilan pendidikan suatu negara, akan tetapi sebaiknya bukan satu-satunya alat ukur untuk menentukan lulus atau tidaknya. Kekhawatiran ketidaklulusan seorang peserta didik sangat menghantui guru dan orang tua sehingga banyak terjadi bocornya kunci jawaban ujian nasional. Bahkan jika dibiarkan akan menjadi penyimpangan sosial skunder, bahwa perbuatan tersebut tidak lagi dikatakan sebagai perbuatan buruk akan tetapi dapat dilegalisasikan demi kepentingan peserta didik

Reformasi pendidikan hendaknya berasal dari LPTK yang menyelenggarakan dan mencetak guru. Guru bukan profesi kelas 2 atau lebih rendah dari itu. Kita bisa buktikan berapa persen siswa SMA yang akan melanjutkan pendidikan guru? Mungkin mereka hanya mengambil jurusan pendidikan karena tidak diterima dari jurusan lain yang lebih elit menurut mereka. Mereka lebih memilih menjadi dokter, insinyur atau bahkan sekretaris sebagai pekerjaan administratif ketimbang bertanggungjawab atas pendidikan bangsanya sendiri menjadi guru.

Mudah-mudahan hari pendidikan nasional 2008 ini sebagai titik tolak untuk membangkitkan dunia pendidikan Indonesia. MARI KITA MAJUKAN PENDIDIKAN INDONESIA.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories